PT. Digital Media Techindo

Perum Pondok Tandala, Jl. Bungur V No. 230
Kawalu, Kota Tasikmalaya
Jawa Barat - Indonesia 46182


Berisi.id – Apa jadinya jika pensil dan kertas digunakan sebagai sensor untuk memantau kesehatan seseorang? Belum lama ini hal tersebut berhasil dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Missouri. Mereka berhasil menciptakan sensor bioelektrik untuk kesehatan dengan mengandalkan pensil dan kertas biasa.

Para peneliti menemukan bahwa grafit yang ada pada inti pensil yang biasa kita gunakan untuk membuat gambar atau menulis sekitar 90% grafit. Grafit disebutkan merupakan mineral dengan komposisi utama karbon, dapat menyalurkan sejumlah energi ketika digunakan untuk menulis di kertas. Grafit inilah yang akan menjadi elektroda sensor, sementara kertas akan berfungsi sebagai struktur pendukungnya.

Dilansir dari Engadget(17/7), Selama tahapan riset yang dilakukan, para peneliti tersebut berhasil memantau EMG (electromyography) menggunakan pensil dan kertas sebagai sensor kesehatan. EMG adalah salahsatu prosedur yang digunakan untuk memantau kesehatan otot dan sistem syaraf yang menggerakkannya.


Para peneliti dari Universitas Missouri itu menyebutkan bahwa potensi teknik ini sangat besar untuk memantau temperatur hingga kadar gula darah seseorang. Terlebih lagi, sensor ini dapat bekerja secara realtime.

Baca Juga : Untuk Bantu Stabilisasi, Harley-Davidson Gunakan Teknologi Gyroscope

Penemuan ini digadang-gadang akan menjadi penemuan besar. Dengan adanya penemuan ini, akan memberikan dampak sangat besar dalam bisang kesehatan masyarakat. Ini bisa menjadi alternatif lain peralatan kesehatan yang lebih murah dan mudah digunakan masyarakat.

Tidak seperti plastik, kertas yang digunakan untuk struktur pendukungnya dapat dihancurkan dengan mudah. Sehingga tidak menimbulkan sampah yang susah didaur ulang.

Materialnya murah dan mudah didapat membuat semua orang bisa menjangkaunya.

Peneliti menilai bahwa di masa depan orang dapat menggunakan teknologi ini untuk kebutuhan perawatan di rumah masing-masing. Tidak hanya itu, teknologi ini dipandang dapat membantu penelitian jarak jauh, terutama selama masa pandemi seperti saat ini.