PT. Digital Media Techindo

Perum Pondok Tandala, Jl. Bungur V No. 230
Kawalu, Kota Tasikmalaya
Jawa Barat - Indonesia 46182




Acer dilaporkan terkena serangan ransomware REvil, dengan pelakunya menuntut $50 juta dari perusahaan.

Dilansir dari Bleeping Computer, aktor di balik ransomware mengumumkan di situs kebocoran data bahwa mereka telah berhasil membobol Acer dan membagikan beberapa cuplikan gambar dari file yang diduga merupakan hasil curian sebagai bukti.

Cuplikan gambar tersebut menunjukkan dokumen yang mencakup spreadsheet keuangan, saldo bank, dan komunikasi bank, menurut laporan itu, dengan kemungkinan serangan berasal dari eksploitasi Microsoft Exchange.

Saat artikel ini diterbitkan, tidak ada konfirmasi apakah Acer telah membayar tebusan ransomware atau belum.

Menurut ZDNet yang sudah menghubungi Acer untuk memberikan komentar, perusahaan tidak mengetahui apakah mereka mengalami serangan ransomware. Sebaliknya, perusahaan hanya menyatakan bahwa mereka “secara rutin memantau sistem TI-nya”.


Acer secara rutin memantau sistem TI-nya, dan sebagian besar serangan siber dipertahankan dengan baik. Perusahaan seperti kami terus-menerus diserang, dan kami telah melaporkan situasi abnormal baru-baru ini yang diamati kepada penegak hukum terkait dan otoritas perlindungan data di banyak negara,” kata juru bicara Acer dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

Acer menemukan ketidaknormalan dan segera memulai tindakan pengamanan dan pencegahan. Mekanisme keamanan internal Acer secara proaktif mendeteksi ketidaknormalan tersebut, dan segera memulai tindakan pengamanan dan pencegahan.”

Baca Juga: “Yang Harus Kamu Tahu Mengenai Serangan Siber Microsoft Exchange

Sebelumnya, operator ransomware REvil memeras perusahaan hukum yang berbasis di New York pada Mei tahun lalu, mengancam akan merilis file sensitif terkait klien selebriti perusahaan kecuali perusahaan tersebut membayar permintaan tebusan sebesar $42 juta.

Operator ransomware tersebut juga menyerang Travelex selama malam tahun baru 2020, yang mengakibatkan layanan online perusahaan tidak aktif selama dua minggu setelah insiden itu terjadi.


Just a simple person who like photography, videography, code, and cyber security enthusiast.