PT. Digital Media Techindo

Perum Pondok Tandala, Jl. Bungur V No. 230
Kawalu, Kota Tasikmalaya
Jawa Barat - Indonesia 46182


Errorcybernews.id – Artificial Intelligence atau sering dikenal dengan AI bisa dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi gejala covid-19. Hal ini dikemukakan oleh sekelompok peneliti dari Mayo Clinic dan Nference yang berhasil melatih AI sehingga dapat mengenali corona dari gejala yang dialami seseorang.

Biasanya, masa inkubasi virus corona secara umum yang direkomendasikan kira-kira selama 14 hari. Namun, dengan pemanfaatan AI, gejala-gejala awal bisa dideteksi dalam waktu 4 sampai 7 hari sebelum penderita melakukan tes covid-19. AI akan mendeteksi beberapa kombinasi gejala, mulai dari batuk, diare, kehilangan kemampuan indera pengecap dan penciuman serta keringat yang berlebihan.

“Ketika tes menggunakan AI untuk Covid-19 dengan sensitivitas tinggi sudah disetujui, menangkap gejala-gejala ini akan menjadi semakin penting untuk memfasilitasi pengembangan yang berkelanjutan dan penyempurnaan model penyakit. Alat kesehatan digital terintegrasi (EHR) dapat membantu mengatasi kebutuhan ini.” kata salah satu peneliti tersebut.

Baca juga : MIT Gunakan Sinyal Nirkabel dan AI untuk Pantau Pasien COVID-19


https://errorcybernews.id/2020/04/15/mit-gunakan-sinyal-nirkabel-dan-ai-untuk-pantau-pasien-covid-19/

 

Studi lanjutan memperlihatkan bahwa tidak hanya mengenali gejala umum saja, artificial intelligence dapat mengenali tiga gejala Covid-19 yang menjadi indikasi dari komplikasi Covid-19 akut. Menariknya, gejala yang berhasil dikenal AI ini bukan gejala yang paling umum.

Dilansir dari BGR (24/4), studi yang digagas oleh peneliti asal AS dan Tiongkok menggunakan AI untuk menganalisa data dari para pasien di dua rumah sakit di Wenzhou. Hasilnya, AI itu mendapati adanya tiga perubahan dalam tubuh yang memicu covid-19. Tiga gejala itu adanya sakit pada tubuh, kadar enzim alanine aminotransferase (ALT) dan tingkat hemoglobin.

ALT merupakan enzim dari hati yang akan menguji fungsi hati dan mendiagnosa kegagalan hati. Sementara itu pengujian hemoglobin merupakan standar pengujian ketika seseorang masuk ke rumah sakit.

AI dapat memprediksi tiga hal itu dengan akurat memprediksi kasus Covid-19. Algoritma AI itu menunjukkan tingkat akurasi sebanyak 70%-80% ketika memprediksi ARDS (acute respiratory disease syndrome). ARDS sendiri merupakan salah satu komplikasi Covid-19 yang memenuhi paru-paru penggunanya dengan cairan.